Senin, 18 Februari 2013

makalah ekosistem


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena atas berkah dan taufiq-Nyalah sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya. Salam dan salawat tak pula kita kirimkan kepada junjungan kita Rasulullah SAW kepada keluarga, sahabat, dan kaumnya yang masih mengengam risalah beliau.
            Penulis pun jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu tegur sapa dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
            Makalah ini dapat selesai atas bantuan teman-teman sekalian dan tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen ................................................yang telah memberikan kami tugas dan tanggung jawab sehingga kami bisa mendapatkan ilmu yang tak ternilai harganya.
            Semoga bantuan yang telah diberikan kepada kami Allah SWT membalasnya dengan  berlipat ganda. Amin


                                                                                                                             Penulis
                                                                                                                        KELOMPOK 1










ii
 
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1
·         Latar Belakang ....................................................................................................... 1
·         Rumusan masalah................................................................................................... 2
·         Tujuan penulisan..................................................................................................... 2
·         Manfaat .................................................................................................................. 2
BAB 2 PEMBAHASAN......................................................................................................... 3
·         Pengertian Ekosistem dalam ruang lingkup ekologi............................................... 3
·         Komponen Ekosistem ............................................................................................. 4
·         Hubungan antar komponen Ekosistem .................................................................. 4
·         Energi dalam Ekosistem ......................................................................................... 5
·         Siklus Biokimia dalam Ekosistem ........................................................................... 7
·         Satuan makhluk hidup Ekosistem ........................................................................... 10
·         Tipe-tipe Ekosistem ................................................................................................ 17
BAB 3 PENUTUP ................................................................................................................. 24
·         Kesimpulan ............................................................................................................. 24
·         Saran........................................................................................................................ 26
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 27







iii
 
BAB 1
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang

Makhluk hidup dalam perkembangan dan pertumbuhannya tidak dapat hidup sendiri, selalu memerlukan makhluk lainnya dalam menjalani hidup dan kehidupannya. Antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain selalu berhubungan dan mengadakan kontak yang saling menguntungkan. Tetapi ada juga sebagian kecil mahkluk hidup yang selalu merugikan makhluk lain, biasanya makhluk ini disebut sebagai parasit.
Ekologi adalah kajian mengenai interaksi timbal-balik jasad individu, di antara dan di dalam populasi spesies yang sama, atau di antara komunitas populasi yag berbeda-beda dan berbagai faktor non hidup (abiotik) yang banyak jumlahnya yang merupakan lingkungan yang efektif tempat hidup jasad, populasi atau komunitas itu. Lingkungan efektif itu mencakup kesaling terikatan  pada interaksi antara jasad hidup itu sendiri. Kaji ekologi itu memungkinkan kita memahami komunitas itu secara keseluruhan. Guna memastikan kenyataan ini, perlu kiranya diadakan berbagai percobaan di lapangan, di laboratorium atau di kedua lingkungan itu sekaligus.
Ekologi merupakan cabang ilmu yang masih relatif baru, yang baru muncul pada tahun 70-an. Ekologi sendiri mencakup suatu keterkaitan antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi, seperti tumbuhan dan sinar matahari, tanah dengan air, yang pada umumnya dikatakan sebagai hukum alam yang berimbang dan biasa disebut ekosistem. Komponen-komponen dalam ekosistem telah dikelolah oleh alam dan mereka saling berinteraksi. Ada komponen yang bersifat netral, bekerjasama, menyesuaikan diri, bertentangan bahkan saling menguasai. Akan tetapi pada akhirnya antara kekuatan-kekuatan tersebut terjadi keseimbangan.
Untuk mengetahui keterkaitan atau interaksi antara komponen abiotik dengan biotik serta hubungan antara kedua komponen tersebut maka percobaan ini layak dilakukan, karena untuk mengetahui hubungan antara kedua komponen tersebut butuh suatu pengamatan di lapangan.
1
Satu ciri mendasar pada ekosistem adalah bahwa ekosistem itu bukahlah suatu sistem yang tertutup, tetapi terbuka dan daripadanya energi dan zat terus-menerus keluar dan digantikan agar sistem itu terus berjalan. Sejauh yang berkenaan dengan struktur, ekosistem secara khas mempunyai tiga komponen biologi, yaitu; produsen (jasad autotrof) atau tumbuhan hijau yang mampu menambat energi cahaya; hewan (jasad heterotrof) atau kosumen makro yang menggunakan bahan organik; dan pengurai, yang terdiri dari jasad renik yang menguraikan bahan organik dan membebaskan zat hara terlarut.
B.      Rumusan  masalah

Ø  Apa pengertian Ekosistem dalam ruang lingkup ekologi ?
Ø  Sebutkan Komponen Ekosistem?
Ø  Bagaimana Hubungan antar komponen Ekosistem ?
Ø  Apakah Energi dalam Ekosistem ?
Ø  Jelaskan Siklus Biokimia dalam Ekosistem ?
Ø  Apakah Satuan makhluk hidup Ekosistem ?
Ø  Definisikan Tipe-tipe Ekosistem ?

C.      Tujuan Penulisan

Ø  Untuk mengetahui pengertian Ekosistem dalam ruang lingkup ekologi.
Ø  Untuk mengetahui Komponen-komponen Ekosistem.
Ø  Untuk mengetahui Hubungan antar komponen Ekosistem.
Ø  Untuk mengetahui Energi dalam Ekosistem.
Ø  Untuk mengetahui Siklus Biokimia dalam Ekosistem.
Ø  Untuk mengetahui Satuan makhluk hidup Ekosistem.
Ø  Untuk mengetahui Tipe-tipe Ekosistem.


D.     Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penulisan makalah ini adalah:
Ø  Manfaat teoritis, untuk mengembangkan pengetahuan tentang ekologi ekosistem.
Ø  Memberikan pengertian kepada masyarakat umum tentang pentingnya menjaga semua jenis-jenis ekologi demi mencapai kehidupan yang lebih baik.











2
 
BAB 1
PEMBAHASAN
A.     Pengertian ekosistem dalam ruang lngkup ekologi
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Ekologi berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
          Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Adapun konsep ekologi adalah Hubungan keterkaitan dan ketergantungan antara seluruh komponen ekosistem yang harus dipertahankan dalam kondisi yang stabil dan seimbang (homeostatis). Perubahan terhadap salah satu komponen akan memengaruhi komponen lainnya. Homeostatis adalah kecenderungan sistem biologi untuk menahan perubahan dan selalu berada dalam keseimbangan.
Ekosistem mampu memelihara dan mengatur diri sendiri seperti halnya komponen penyusunnya yaitu organisme dan populasi. Dengan demikian, ekosistem dapat dianggap suatu cibernetik di alam. Namun manusia cenderung mengganggu sistem pengendalian alamiah ini. Ekosistem merupakan kumpulan dari bermacam-macam dari alam tersebut, contoh hewan, tumbuhan, lingkungan, dan yang terakhir manusia.
Ciri-ciri ekosistem adalah sebagai berikut:

·         Memiliki sumber energi yang konstan, umumnya cahaya matahari atau panas bumi pada ekosistem yang ditemukan di dasar laut yang dangkal.
·         Populasi makhluk hidup mampu menyimpan energi dalam bentuk materi organik.
·         Terdapat daur materi yang berkesinambungan antara populasi dan lingkungannya.
·         Terdapat aliran energi dari satu tingkat ke tingkat yang lainnya.


3
 
B.      Komponen Ekosistem

a.      Komponen Biotik
Ekosistem adalah suatu sistem yang saling terkait antara organisme hidup dan organisme tak hidup atau lingkungan fisiknya. Merupakan bagian hidup dari lingkungan, termasuk seluruh populasi yang berinteraksi dengannya. Contoh dampak faktor biotik pada suatu lingkungan adalah penyerbukan bunga oleh angin. Komponen biotik dapat dibagi berdasarkan fungsinya, antara lain:
Ø Produsen, semua makhluh hidup yang dapat membuat makanannya sendiri. Contohnya: makhluk hidup autotrof, seperti tumbuhan berklorofil.
Ø  Konsumen, semua makhluk hidup yang bergantung pada produsen sebagai sumber energinya. Berdasarkan jenis makannya konsumen dibagi menjadi:
a)      Herbivor, konsumen yang memakan tumbuhan.
Contohnya:sapi, kambing, dan kelinci.
b)       Karnivor, konsumen yang memakan hewan lain.
Contohnya: harimau, serigala, dan macan
c)      Omnivor, konsumen yang memakan tumbuhan dan hewan.
Contohnya: manusia dan tikus.
Ø Dekomposer atau pengurai, semua makhluk hidup yang memperoleh nutrisi dengan cara menguraikan senyawa-senyawa organik yang berasal dari makhluk hidup yang telah mati. Contohnya: bakteri, jamur, dan cacing.

b.       Komponen Abiotik
Merupakan semua bagian tidak hidup dari ekosistem. Peranan komponen abiotik untuk makhluk hidup adalah sebgai berikut,
v Kemampuan organisme untuk hidup dan berkembang biak bergantung pada beberapa factor fisika dan kimia di lingkungannya.
v Sebagai factor pembatas, faktor yang membatasi kehidupan organisme. Contohnya, jumlah kadar air sebgai faktor pembatas yang menentukan jenis organisme yang hidup di padang pasir.
Komponen abiotik pada ekosistem diantaranya: air, cahaya matahari,oksigen, suhu, dan tanah.

C.      Hubungan Antarkomponen Ekosistem

a. Hubungan Makan
Suatu interaksi dalam ekosistem yang menyediakan nutrisi untuk setiap
makhluk hidup yang sangat diperlukan untuk pemeliharaan diri, pertumbuhan,
dan perkembangbiakan.
·         Nutrisi Autotrof, Makhluk hidup tertentu yang dapat mensintesis
4
makanannya sendiri.
·         Nutrisi Heterotrof, hubungan makan diantara makhluk hidup yang
bergantung pada makhluk hidup yang lain sebagai sumber energinya.
·         Saprofit, makhluk hidup yang menggunakan bahan organik dari
organisme yang telah mati sebagai sumber makanannya.
·         Herbivor, makhluk hidup pemakan tumbuhan
·         Karnivor, makhluk hidup pemakan hewan lain
·         Omnivor, makhluk hidup pemakan segala.

b. Hubungan Simbiosis
Hubungan dua organisme yang hidup bersama dalam suatu hubungan nutrisi yang erat. Beberapa jenis simbiosis antara lain:
Simbiosis
Organisme A
Organisme B
Contoh
Mutualisme
+
+
Lumut kerak, antara ganggang dan jamur
Komensalisme
+
0
Hiu dan ikan remora
parasitisme
+
-
Benalu dengan tumbuhan inang

c.       Hubungan Kompetisi
Hubungan persaingan antar makhluk hidup untuk mempertahankan hidupnya.
Dalam ekosistem dikenal istilah
·         Habitat, tempat suatu organisme dapat hidup dan menyediakan semua
hal yang dibutuhkan oleh organisme tersebut.
·         Relung (niche), cara hidup suatu organisme.
Kompetisi tidak terjadi jika organisme-organisme menempati relung yang
berbeda, walaupun habitat dan jenis makannya sama.
D.     Energi dalam ekosistem

1.    Manifestasi Energi
Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja. Energi dapat memanifestasikan berbagai bentuk radiasi cahaya, bentuk energi panas, energi ikat kimia (energi potensial), energi mekanik dan energi listrik. Perilaku energi di alam bebas mengikuti Hukum Termodinamika sebagai berikut:
i.            Hukum termodinamika I disebut Hukum Kekekalan Energi I/ Hukum konservasi Energi, yang mengemukakan bahwa energi dapat diubah dari satu bentuk ke bventuk yang lain, tetapi tidak pernah terjadi yang baru atau hilang. Misalnya cahaya adalah satu bentuk energi yang dapat diubah ke dalam bentuk energi panas, atau energi ikat kimia dalam bahan makanan tetapi tidak ada yang hilang.
ii.           
5
Hukum Termodinamika II atau hukum kekebalan Energi yang mengemukakan bahwa tidak satupun energi yang terjadi tanpa adanya degradasi sebagian kecil energi itu kedalam bentuk panas. Dengan kata lain, tidak ada perubahan energi yang 100% efisien. Misalnya energi cahaya yang diubah kedalam bentuk energi panas yang tidak dapat digunakan lagi. Energi Kimia bahan bakar yang diubah ke dalam energi gerak mekanis dalam mesin-mesin sebagian terbuang sebagai energi panas.
Pada hakikatnya manifestasi kehidupan yang dinyatakan dalam rangkaian perubahan-perubahan seperti membuat makanan (sintesis bahan organis), bernafas, tumbuh, berkembang, bergerak, semuanya hanya dimungkinkan oleh adanya perpindahan dan perubahan energi. Dapat dikatakan bahwa manifestasi kehidupan adalah salah satu dari berbagai bentuk manifestasi energi.

2.  Rantai Makanan dan Jaring-Jaring Makanan
·         Rantai makanan, merupakan proses makan dan dimakan di antara organisme dengan urutan satu arah yang mengakibatkan terjadinya perpindahan energi dari satu organisme ke organisme yang lainnya. Oleh karena itu, rantai makanan merupakan prinsip yang menjelaskan tentang hubungan antara prosuden, konsumen, dan pengurai dalam memperoleh makanan.
Makanan hasil fotosintesis tersimpan dalam tubuh tumbuhan. Tubuh tumbuhan merupakan bahan makanan bagi organisme heterotrof yang dalam ekologi digolongkan sebagai konsumen, karena tidak dapat memproduksi sendiri. Konsumen yang pertama kali memanfaatkan hasil fotosintesis yang ada dalam tubuh produsen adalah herbivora menyimpan bahan-bahan organik yang berasal dari produsen di dalam sel dan jaringan tubuhnya, jika tidak direspirasikan. Di dalam memperoleh makan itu, terdapat hubungan antara produsen dan konsumen yaitu produsen dimakan herbivora, herbivora dimakan oleh karnivora tingkat I, karnivor tingkat I dimakan oleh karnivor tingkat II, dan seterusnya.  Hubungan yang diuraikan itu dapat dilihat di rantai makanan.

Produsen                        konsumen I                             konsumen II                  konsumen III











·        
6
Jaring-jaring Makanan, rantai-rantai makanan yang saling berhubungan.
3. Piramida Biomassa dan Piramida Energi
·         Piramida biomassa, dapat dinyatakan sebagai diagram yang mengambarkan perpaduan massa seluruh makhluk hidup di habitat tertentu yang diukur dan dinyatakan dalam satuan gram.
·         Biomassa, ukuran berat materi hidup pada waktu tertentu. Piramida ini mengelompokan individu yang memiliki tiap tingkatan tropik berdasarkan biomassanya. Piramida ini dianggap lebih baik dari piramida jumlah, karena hubungan kuantitatif biomassa dapat terlihat.
·         Piramida Energi, piramida ini didasarkan atas kecepatan aliran energi dan atau produktivitas pada tiap tingkat tropik. Oleh karena itu, piramida ini memperlihatkan jumlah energi yang dipindahkan dari satu tingkat ke tingkat diatasnya dalam suatu jaring makanan. Dibandingkan kedua piramida lainnya, piramida ini merupakan piramida terbaik dan tidak pernah terbalik yang dapat menggambarkan dinamika kehidupan dari komponen-komponen penyusun ekosistem.

E.      Siklus Biokimia Dalam Ekosistem

Suatu siklus bahan kimia, dari bagian abiotik dalam ekosistem ke komponen
biotik, lalu diuraikan kembali menjadi mineral, demikian seterusnya.

1. Siklus Air
Dalam siklus air terjadi empat tahap sebagai berikut:
a. Evaporasi, Proses penguapan zat cair menjadi gas
b. Traspirasi, Pengeluaran air dari tumbuhan dalam bentuk uap
c. Kondensasi, Proses perubahan gas menjadi cair
7
d. Presipitasi, Proses jatuhnya kembali zat cair ke bumi melalui hujan.

2.      Siklus oksigen
Oksigen bebas di atmosfer, air dan didalam rongga tanah kurang lebih 20% dari unsur yang terdapat di dalam ekosistem. Fungsi oksigen dalam siklus biogeokimia sangat terkait dengan siklus karbon terutama dalam proses fotosintesis dan respirasi. Pada peristiwa fotosintesis, tumbuhan hijau akan mengeluarkan oksigen ke atmosfer sebagi produk sampingan dan akan dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk respirasi.

3.      Siklus Fosfor
8
Siklus fosfor lebih sederhana dan kurang sempurna. Unsur fosfor merupakan unsur penting bagi kehidupan organisme, tetapi di alam, persediaannya snagat terbatas. Unsur fosfor berperan penting dalam transformasi energi pada tubuh semua makhluk hidup karena kemampuannya membentuk ikatan kimia berenergi tinggi. Sumber terbesar unsur fosfat bukanlah udara, tapi batu-batuan dan endapan lain yang terbentuk selama jutaan tahun yang silam. Sumber ini secara berangsur-angsur mengalami erosi. Bersamaan dengan itu pula senyawa fosfat dilepaskan ke dalam ekosistem. Sebagian besar senyawa fosfat hilang ke laut dan sebagian lagi diendapkan ke laut dalam.
4.      Siklus Belerang
Sulfur atau Belerang adalah salah satu unsur makro, merupakan bagian yang esensial dari beberapa asam amino dan terdapat bersama-sama dalam senyawa proteinpada proses sintesis protein. Sebagaimana nitrogen, sulfur diabsorpsi sebagai ion negative, ion sulfat (SO4). Tidak seperti nitrogen, daur dari sulfur tidak seluruhnya terjadi di atmosfer tetapi juga tergantung pada aktivitas mikroorganisme, misalnya pada suhu ekosistem akuatik.

5.      Siklus Karbon

            Senyawa karbon dalam bentuk bahan makanan akan dipindahkan melalui rantai makanan, mengikuti pola siklus dan aliran energi. Karbon dikeluarkan dari tubuh makhluk hidup melalui proses respirasi. Sebagian akan kembali ke atmosfer dan sebagian akan digunakan dalam proses fotosintesis. Pada hewan dan manusia senyawa karbon tersimpan dalam bentuk kalsium karbonat sebagai dasar pembentukan tulang.
9
 
4. Siklus Nitrogen
            Nitrat dapat diserap oleh tumbuhan  untuk mensintesis protein melalui metabolisme. Tumbuhan menjadi makanan bagi berbagai jenis hewan. Tumbuhan dan hewan yang mati diuraikan oleh jasad pengurai. Hasil penguraian yaitu berupa ammonium yang akan dikeluarkan ke lingkungannya. Siklus Nitrogen dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

F.        Satuan Makhluk Hidup dalam Ekosistem
1.      Individu
Pada suatu ekosistem akan ditemukan beberapa jenis makhluk hidup. Misalnya kamu menemukan seekor semut dan satu batang pohon. Jumlah dengan sebutan itu menunjukkan satu makhluk hidup sejenis yang berjumlah tunggal dan disebut individu. Individu berasal dari bahasa Latin individuum yang artinya tidak dapat dibagi.
2.      Populasi
Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang berada pada suatu wilayah tertentu pada waktu yang bersamaan. Contoh populasi di antaranya dua ekor ayam di kebun, tiga ekor jerapah di padang rumput, sekumpulan semut di pohon jambu dan lima batang pohon durian di kebun. Sifat populasi adalah adanya kepadatan populasi dan perubahan jumlah populasi dari waktu ke waktu.
3.      Komunitas
10
Di kebun atau padang rumput terdapat beberapa hewan dan tumbuhan yang hidup dalam waktu yang bersamaan. Beberapa populasi tersebut saling berinteraksi membentuk suatu komunitas. Suatu komunitas tersusun dari beberapa populasi yang hidup dan saling berinteraksi dalam satu wilayah tertentu pada suatu waktu. Nama sebuah komunitas biasanya menunjukkan makhluk hidup dominan yang menempati habitat tersebut. Pada komunitas hutan bakau, populasi yang paling banyak adalah pohon bakau. Begitu juga komunitas hutan bambu, populasi terbanyak adalah pohon bambu.
4.      Ekosistem dan Biosfer

Setiap makhluk hidup yang menempati suatu tempat akan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan yang ditempatinya. Hal ini bertujuan agar setiap organisme mampu bertahan hidup. Hubungan timbal balik yang kompleks antara organisme dengan lingkungannya disebut ekosistem.
Satuan makhluk hidup yang lebih besar daripada ekosistem adalah bioma. Contoh bioma adalah bioma stepa (padang rumput), bioma hutan basah, bioma gurun dan bioma tundra (padang lumut). Kumpulan dari berbagai macam bioma di bumi ini membentuk sebuah sistem yang disebut biosfer.

*      Individu Dalam Ekosistem
Dalam mempelajari suatu organisme, tentunya kita tidak hanya berupaya mengetahui “dimana” tempat hidup secara alami organisme yang akan kita pelajari tadi, karena bisa saja tempat hidup alami organisme tadi saling tumpang tindih dengan tempat hidup alami
organisme lain, atau juga merupakan tempat hidup alami organisme lain. Adanya kerancuan ini, apabila kita pelajari lagi, tampak lebih jelas bahwa suatu organisme dapat saja menempati makrohabitat ataupun mikrohabitat dari ekosisrem yang sama. Terlebih lagi kalau kita melihat dari apa peranan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan organisme yang akan kita teliti tadi. Hal inilah yang dinyatakan sebagai relung ekologi. dari suatu organisme.
Dengan adanya relung ekologi, setiap organisme akan mempunyai peranan yang berlainan meskipun dalam ekosistem yang sama. Relung ekologi juga akan menggambarkan kemampuan dari suatu organisme untuk berinteraksi dalam ekosistem dengan berikut segala isinya, bahkan apabila memungkinkan kita mpu ikut mengendalikan ekosistem dari lingkungan hidupnya.
11
Di alam kita juga sering mendapati adanya spesies yang terdapat pada daerah geografis yang tidak sama atau terpisah oleh suatu barrier, misalnya gunung atau pulau. Keadaan ini disebut Allopatrik. Sebaliknya bisa saja kita temui adanya spesies yang sama terdapat pada daerah yang sama, namun dalam relung yang berbeda. Kondisi ini disebut Simpatrik. Peristiwa yang termasuk allopatrik dan simpatrik ini dapat dengan mudah ditemui, mengingat bahwa bisa saja dengan keanekaragaman ekosistem yang ada lebih memungkinkan suatu organisme ataupun spesies tertentu mampu hidup dan beradaptasi di dalamnya.
Meskipun demikian, lambat laun dengan kondisi simpatrik maupun allopatrik akan mengarah pada terbentuknya spesies baru secara evolusi, karena dalam kondisi geografis yang tidak sama ataupun relung yang berlainan akan menuntut organisme di dalamnya untuk selalu menyesuaikan diri, yang bisa saja akhimya akan berlainan sama sekali dengan organisme atau spesies yang ada sebelumnya.
*      Jam Biologi dan Domestikasi
Organisme-organisme mempunyai mekanisme secara fisiologik untuk mengukur waktu, yang dikenal sebagai jam biologi (biological clock). Secara umum jam biologi harian adalah kemampuan untuk menentukan waktu dan mengulangi fungsi-fungsi pada setiap interval 24 jam sekalipun dalam keadaan tanpa tergantung adanya tanda-tanda faktor fisik seperti cahaya matahari. Jam biologi juga dikaitkan dengan periodisitas-periodisitas yang berhubungan dengan bulan dan daur-daur musiman.
Meskipun mekanisme terjadinya jam biologi belum jelas, tetapi terdapat dua teori yang diusulkan, yaitu
(1)   Hipotesa waktu endogen, yaitu jam atau waktu harian yang telah terprogram oleh tubuh organisme dan dapat mengukur tanpa adanya petunjuk lingkungan.
(2)   Hipotesa waktu eksternal, yaitu jam atau waktu harian dalam tubuh organisme yang bekerjanya diatur oleh tanda-tanda dari lingkungan.
Adanya “kemampuan-kemampuan” tertentu yang dianggap bersifat menguntungkan dari suatu organisme, mengundang organisme tersebut didomestikasi ke tempat yang diperkirakan cocok. Banyak di antara organisme yang didomestikasi akhirnya dibudidayakan dan lambat laun mengalami suatu perubahan sehingga bisa saja akhirnya berlainan dengan sifat aslinya
Pada peristiwa domestikasi, baik pada hewan ataupun tanaman tidak hanya sekedar melibatkan domestikasi genetik dari suatu spesies, melainkan juga adanya “adaptasi timbal balik” antara spesies yang didomestikasi dengan pemelihara (domestikator) yang biasanya manusia. Sehingga sebetulnya pada peristiwa ini terjadi dua jalur yang saling mempengaruhi yang dapat saja membawa atau mengarah pada perubahan (ekologi dan sosial, bahkan genetik) pada manusia maupun organisme yang dipeliharanya. Meskipun demikian, apabila upaya domestikasi dilakukan dengan kurang perhitungan dan ceroboh justru akan menimbulkan masalah besar, dengan lepas dan tidak terkontrolnya organisme yvng didomestikasi ke alam bebas dan berubah menjadi hama.
12
 
*      Perkembangan Ekosistem
Setiap ekosistem dalam suatu wilayah selalu mengalami perkembangan menuju ke arah keseimbangan. Perkembangan ekosistem tersebut tergantung dari pola perkembangan komunitas yang ada di dalamnya. Secara umum perkembangan ekosistem yang dikenal dengan suksesi ekologi ini, melalui beberapa tahapan-tahapan perkembangan yang disebut sere. Setiap sere memberikan ciri-ciri khas tersendiri tergantung dari jenis-jenis dominan yang ada dan faktor pembatas fisiknya.
Sukses tidak hanya berlaku pada ekosistem alaminya saja, melainkan iuga pada organisme hewan dan tumbuhan yang ada di dalamnya. Bahkan dinyatakan bahwa ekosistem primer, sekunder, flora, dan fauna dan daerah sekitar merupakan faktor utama yang memberi pengaruh terhadap tipe-tipe pertumbuhan tumbuhan dan hewan yang mengalami suksesi baik melalui persebaran maupun migrasi.
Terdapat tiga hal pokok yang saling terkait dan ikut mempengaruhi lajunya perkembangan ekosistem, yakni
1) ketersediaan sumber daya,
2) faktor pembatas fisik, dan
3) kemampuan dari organismenya.
 Khusus mengenai ketersediaan sumber daya, dalam hal ini makanan/energi diberikan penekanan tersendiri karena dapat mengarah pada kesempatan kenaikkan biomassa. Apabila laju total fotosintesis lebih besar dari laju total respirasi maka dapat memungkinkan kesempatan kenaikkan biomassa., dan ini disebut suksesi autotrofik. sebaliknya bila laju total fotosintesis lebih kecil dari laju total respirasi maka hanya akan memanfaatkan energi yang sudah ada dengan pembentukan relung-relung ekologi yang baru, dan ini disebut suksesi heterotrofik.
Suksesi, pada tingkat perkembangan akhir terbentuklah puncak dimana terdapat keseimbangan ekologi biomassa maksimum dengan pola-pola simbiose yang berlangsung di dalamnya berjalan secara alami pula. Jadi perkembangan ekosistem tidak pernah merupakan hasil perkembangan yang terjadi begitu saja, dalam artian terjadi langsung keseimbangan ekologi pada suatu kawasan yang baru terbentuk. Dibutuhkan satuan waktu tertentu, tentunya dengan kemampuan daya adaptasi yang ada untuk mencapai suatu tatanan menuju keseimbangan ekologi.
13
Sejalan dengan perkembangan ekosistem menuju klimaks ekologi ataupun keseimbangan ekosistem, senantiasa selalu diikuti dengan perkembangan berupa perubahan-perubahan dari segala sesuatu yang berkaitan dengan tata kehidupan organisme yang ada di dalam ekosistem tersebut. Hanya organisme yang mampu beradaptasilah (yang mampu melakukan kompensasi terhadap faktor pembatas fisik lingkungannya) yang dapat terus berada dan hidup, meskipun dengan harus “menciptakan” suatu relung ekologi tersendiri.
*      Konsep Klimaks
Setelah melalui beberapa tahapan perkembangan ekosistem atau sere, suatu ekosistem dapat mencapai tahapan akhir klimaks atau dapat pula dianggap sebagai puncak perkembangan ekosistem. Salah satu ciri pada komunitas klimaks yaitu dengan tidak terdapatnya penumpukan zat organik netto tahunan. Hal ini disebabkan karena produksi tahunan komunitas seimbang dengan konsumsi tahunan.
Banyak ahli berpendapat bahwa iklim klimaks pada suatu wilayah belum tentu dapat dicapai karena komunitas yang sudah “mantap” sekalipun, karena masih menunjukkan adanya perubahan, penyesuaian dan pembusukan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa perubahan suatu komunitas dipengaruhi oleh kejadian-kejadian yang terdapat dalam komunitas tersebut. Berdasarkan hal tersebut telah dipakai kesepakatan bahwa hampir tidak mungkin pada suatu wilayah mencapai iklim klimaks, sehingga iklim klimaks tunggal merupakan komunitas teoritis yang dituju semua suksesi dalam perkembangan pada suatu daerah, asalkan keadaan lingkungan fisik secara umum tidak terlalu ekstrem sehingga dapat mampu mempengaruhi iklim lingkungan. umumnya suksesi berakhir pada klimaks edaphik, dengan hanya terkait pada masing-masing pengaruh faktor pembatas fisik pada wilayah setempat.
Meskipun suksesi pada suatu ekosistem untuk dapat mencapai klimaks membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun cepat lambatnya masih tergantung pula oleh tingkatan suksesi yang terjadi kepadanya. secara umum terdapat dua macam ekosistem suksesi yaitu, ekosistem suksesi primer dan ekosistem suksesi sekunder. Ekosistem suksesi primer lebih dinyatakan pada berkembangnya ekosistem tersebut melalui substrat yang baru. Artinya kehidupan yang ada pada ekosistem tersebut setelah perlakuan benar-benar dimulai dari nol, dan harus dimulai dari kerja organisme pionir dengan segala perlakuan dari faktor pembatas fisik yang ada. Sedangkan ekosistem suksesi sekunder berkembang setelah ekosistem alami rusak total tetapi dimulai dengan tidak terbentuk substrat yang baru, atau dapat dianggap sebagai dimulainya kehidupan baru setelah adanya “gangguan” pada ekosistem alami.
*      Mekanisme proses terbentunya ekosistem

14
Pada awal mula terbentuknya ekosistem ini adalah keberadaan komponen abiotik, yaitu tanah dan bebatuan yang berada pada permukaan tanah tersebut. Terdapat pula mata air yang muncul dari dalam tanah. Komponen biotik pertama yang muncul adalah berupa tumbuhan lumut, dimana tumbuhan ini merupakan tumbuhan perintis yang dapat tumbuh dikondisi ekstrim, yaitu di permukaan bebatuan yang cadas sekalipun. Adanya tumbuhan perintis atau lumut memungkinkan untuk tumbuhan lain juga tumbuh. Ketersediaan tanaman mengundang makhluk hidup lain dari kelompok hewan untuk mendiami tempat tersebut, karena adanya ketersediaan adalah tumbuhan maka hewan yang datang adalah hewan herbivore ( pemakan tumbuhan ), misalnya rusa, jerapah serta beberapa jenis burung dan serangga. Dari komponen yang sudah ada maka ditempat tersebut sudah dapat dikatakan ekosistem karena sudah ada komponen biotik dan abiotiknya.
 
Namun adanya hewan herbivora akan mengundang hewan pemakan daging (karnivora) untuk datang, misalnya ular, harimau, burung elang dsb. Ekosistem sudah terbentuk dan berjalan seperti yang sudah digambarkan, adanya peristiwa makan dan dimakan ( rantai makanan ) sampai kedatangan manusia yang mengubah susunan dan fungsi ekosistem tersebut. Manusia mulai melakukan kegiatan – kegiatan yang dapat dikatakan merusak. Yaitu melakukan penebangan – penebangan tanaman dan perburuan terhadap binatang – binatang yang tentu saja akan mengurangi komponen ekosistem yang ada sampai pada puncakanya komponen ekosistem akan habis dan ekosistem akan rusak.

*      Proses yang terjadi dari mula terbentuknya ekosistem tersebut sampai kondisi terakhir yang kita ketahui.

Dari awal mula hingga akhir terbentuknya ekosistem terjadi beberapa proses diantaranya :

        I.            Pertumbuhan populasi

Semua makhluk hidup memiliki potensi tumbuh yang tinggi pada kondisi optimum. Di dalam ekosistem, semua komponen biotik jumahnya akan meningkat dengan cepat secara aamiah, dan bila tidak di batasi. Factor keahiran yang mendukung tingginya pertumbuhan populasi. Jumlah kelahiran dan kematian mungkin berfluktuasi secara luas sebagai respon terhadap pengaruh lingkungan yang berbeda, tetapi jumlah itu mendekati seimbang daam waktu yang lama. Interaksi spesies, seperti predasi, kompetisi, dan herbivore akan mengatur naik turunnya pertumbuhan populasi.

      II.            Interaksi antar spesis

Organisme tidaka dapat hidup sendirian di alam, tetapi hidup bersama dengan organisme dari spesies lain. Mereka akan saling berinteraksi, interaksi antar spesies ada yang bersifat positif ada juga yang bersifat negative. Interaksi positif dintaranya simbiosis mutualisme dan komensalisme. Interaksi negatif yaitu adanya kompetisi dan predasi.



15
 
    III.            Kepunahan

Kepunahan menggambarkan ketidakmampuan populasi di dalam suatu ekosistem untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang berubah, juga kesuksesan evolusi popuasi yang lebih baik mampu beradaptasi lebih baik pula. Karena itu penggantian spesies oleh spesies lain yang lebih sukses mungkin suatu bentuk seleksi dari populasi dan bukan individu yang membawa sifat – sifat baik.

    IV.            Produksi primer

Di sini yang dikatakan produksi primer adalah tumbuhan yang menangkap energy sinar matahari dan mengubahnya menjadi energy kimia dalam bentuk senyawa organic atau proses fotosintesis. Produksi primer ekosistem darat biasanya diprakirakan dari kenaikan tahunan biomassa tubuh tumbuhan.

      V.            Aliran energi

Fotosintesis dan produksi primer menyediakan energy bagi komunitas. Herbivore makan tumbuh – tumbuhan, karnivora makan hebivora, dan seterusnya karnivora dimakan karnivora yang lain, begitu seterusnya sehinga terbentuklah rantai makanan, yaitu adanya aliran energi.

    VI.            Suksesi

Suksesi adaah proses perubahan terarah yang universal dari vegetasi dalam skala waktu ekologi. Perubahan ini merupakan perubahan komposisi komunitas. Komunitas selalu mengalami perubahan. Biamana komunitas terganggu, misalnya hutan ditebang untuk diambi kayunya, maka daerah ini dengan cepat akan dihuni oleh bermacam – macam spesies yang selanjutnya memodifikasi satu atau lebih factor lingkungan. Modifikasi lingkungan ini pada gilirannya memungkinkan spesis baru menjadi mapan.


*      Apakah Proses – proses tersebut akan terus terjadi di waktu mendatang jika tidak terjadi gangguan pada ekosistem tersebut.

Ya, selama tidak ada gangguan baik dari dalam maupun dari luar, dari alam maupun dari tangan manusia,maka ekosistem tersebut akan tetap ada,tumbuh dan berkembang secara berkesinambungan.


*     
16
Kondisi ekosistem yang kita amati di masa-masa mendatang.
Ekosistem akan dihadapkan pada perubahan lingkungan yang berpotensi akan menyebabkan kepunahan. Perubahan iklim,kompetitor, pemangsa dan penyakit yang merupakan tantangan. Sebab–sebab kepunahan atau rusaknya ekosistem hutan adalah :

o   Jika dilihat akhir – akhir ini banyak sekali manusia yang melakukan perusakan terhadap hutan,misalnya penebangan hutan untuk dijadikan lahan pertanian  tentu saja kondisi hutan akan memprihatinkan, tidak ada lagi hewan – hewan yang dapat tinggal dan bernaung di dalamnya. Tidak hanya factor biotiknya yang berpengaruh namun dampak dari hal tersebut akan dapat menimbulkan banjir karena sudah tidak ada lagi penyerap – penyerap air saat hujan turun. Banjir yang terjadi juga ikut merusak komponen abiotiknya, hanyutnya lapisan tanah bersama batu-batuan.
o    Pemburuan liar secara besar - besaran yang dapat juga menyebabkan kepunahan pada hewan– hewan dihutan.
o   Polutan. Zat kimia beracun yang merupakan agen kepunahan baik bagi hewan maupun tumbuhan.

 Namun apabila hutan tetap dijaga kelestariannya, maka saat ini dan di masa yang akan datang,ekosistem hutan akan tetap ada dan terus terjaga.

G.   Tipe-Tipe Ekosistem
Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan ekosistem buatan.

1.      Ekosistem Akuatik (air)                                                 

Air tawar adalah hal penting karena merupakan sumber air rumah tangga dan industri yang murah, komponen air tawar merupakan daur higrologis dan ekosistem air tawar merupakan sistem disporsal (pembuangan yang mudah dan murah).

17
 
Beberapa faktor pembatas dalam ekosistem air tawar diantaranya:
1)      Kejernihan
2)      Temperatur
3)      Arus
4)      Oksigen
5)      Garam biogenik dalam air.
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Ekosistem air tawar digolongkan menjadi air tenang dan air mengalir. Termasuk ekosistem air tenang adalah danau dan rawa, termasuk ekosistem air mengalir adalah sungai.
1.      Air tergenang. Contohnya: danau, kolam, rawa dan mangrove.
2.      Air mengalir. Contonhya: mata air, aliran sungai, dan selokan.
Habitat laut (oseanik) ditandai oleh salinitas (kadar garam) yang tinggi dengan ion CI- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25 °C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi, sehingga terdapat batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah yang disebut daerah termoklin.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plakton serta ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung baik. Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaan secara horizontal.
Estuari (muara) merupakan tempat bersatunya sungai dengan laut. Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi. Komunitas tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang, dan fitoplankton. Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting, dan ikan.
18
 
Dinamakan demikian karena yang paling banyak tumbuh di gundukan pasir adalah tumbuhan Ipomoea pes caprae yang tahan terhadap hempasan gelombang dan angin. Tumbuhan yang hidup di ekosistem ini menjalar dan berdaun tebal.
Sungai adalah suatu badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan garis lintang. Ekosistem sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-kura, ular, buaya, dan lumba-lumba.
Ekosistem ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai. Efisiensi ekosistem ini sangat tinggi. Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa organik lain. Berbagai invertebrata, mikro organisme, dan ikan, hidup di antara karang dan ganggang. Herbivora seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut, dan ikan karnivora. Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat pantai memiliki pasir putih.
Adapun manfaat terumbuh karang antara lain:
*      Berperan penting bagi pertumbuhan sumber daya perikanan (sebagai feeding ground, fishing ground, spanwning ground dan nursery ground)
*      Mencegah terjadinya pengikisan pantai (abrasi)
*      Sebagai daya tarik wisata bahari
*      Secara global terumbu karang berfungsi sebagai pengedap kalsium yang mengalir dari sungai ke laut
*      Sebagai penyerap karbondioksida dan Gas Rumah Kaca (GRK) lainnya.
Kedalamannya lebih dari 6.000 m. Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen terdapat bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.
19
Lamun atau seagrass adalah satu‑satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang hidup di lingkungan laut. Tumbuh‑tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal. Seperti hal­nya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak dan tangkai‑tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak. Berbeda dengan tumbuh‑tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah dan meng­hasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk mengangkut gas dan zat‑zat hara. Sebagai sumber daya hayati, lamun banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

2.      Ekosistem Terestrial (darat)

Ekosistem hutan hujan tropis memiliki produktivitas tinggi.
Ekosistem taiga merupakan hutan pinus dengan ciri iklim musim dingin yang panjang.
Ekosistem tundra didominasi oleh vegetasi perdu.
20
Penentuan zona dalam ekosistem terestrial ditentukan oleh temperatur dan curah hujan. Ekosistem terestrial dapat dikontrol oleh iklim dan gangguan. Iklim sangat penting untuk menentukan mengapa suatu ekosistem terestrial berada pada suatu tempat tertentu. Pola ekosistem dapat berubah akibat gangguan seperti petir, kebakaran, atau aktivitas manusia.
Hutan hujan tropis terdapat di daerah tropik dan subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan 200-225 cm per tahun. Spesies pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinggi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro, yaitu iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme. Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari, variasi suhu dan kelembapan tinggi, suhu sepanjang hari sekitar 25 °C. Dalam hutan hujan tropis sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan) dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.
  • Hutan Magrove
Hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Luas hutan mangrove yang ada di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5 – 3,5 juta Ha, 18 – 23% luas magrove di dunia dan lebih luas dari Brazil).
Adapun fungsi ekologinya yaitu:
*      Sebagai peredam gelombang (termasuk gelombang tsunami), angin, dan badai
*      Melindungi daerah pantai dari bahaya abrasi
*      Sebagai penyerap nutrien organik, penahan lumpur, dan perangkap sedimen
*      Sebagi daerah asuhan, mencari makan dan berkembangbiakan ikan, udang, dan hewan liar lainnya.
  • Hutan Rawa
Hutan rawa terbentuk karena keadaan tanah yang sangat basah. Rawa Sfagnum merupakan rawa yang terbentuk di daerah yang beriklim sedang. Jenis-jenis rawa yang lain terbentuk bukan karena keadaan iklim, tetapi karena keadaan air dalam tanah yang berlebihan. Hutan-hutan rawa yang terbesar di pantai-pantai di kepulauan Indonesia seperti Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan delta sungai Citaduy serta rawa penting di Jawa Tengah. Vegetasi yang dominan adalah enceng gondok, teratai, pohon, bungur, dan dadap. Pohon-pohon yang tumbuh disini tinggi kurus dan tidak berdaun lebat. Keanekaragaman hewan sangat rendah hanya ditemukan babi hutan, macam-macam ulat air, ikan-ikan dan burung pencakar ular.
21
 
Sabana dari daerah tropik terdapat di wilayah dengan curah hujan 40 – 60 inci per tahun, tetapi temepratur dan kelembaban masih tergantung musim. Sabana yang terluas di dunia terdapat di Afrika; namun di Australia juga terdapat sabana yang luas. Hewan yang hidup di sabana antara lain serangga dan mamalia seperti zebra, singa, dan hyena.
Padang rumput terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-ciri padang rumput adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun, hujan turun tidak teratur, porositas (peresapan air) tinggi, dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular.
Gurun terdapat di daerah tropik yang berbatasan dengan padang rumput. Ciri-ciri ekosistem gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, semut, ular, kadal, katak, kalajengking, dan beberapa hewan nokturnal lain.
Hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki emapt musim, ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewan yang terdapat di hutam gugur antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakun (sebangsa luwak).
Taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik, ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dan sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali, sedangkan hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.
22
 
Tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan perdu, dan rumput alang-alang. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Karst berawal dari nama kawasan batu gamping di wilayah Yugoslavia. Kawasan karst di Indonesia rata-rata mempunyai ciri-ciri yang hampir sama yaitu, tanahnya kurang subur untuk pertanian, sensitif terhadap erosi, mudah longsor, bersifat rentan dengan pori-pori aerasi yang rendah, gaya permeabilitas yang lamban dan didominasi oleh pori-pori mikro. Ekosistem karst mengalami keunikan tersendiri, dengan keragaman aspek biotis yang tidak dijumpai di ekosistem lain.

3.      Ekosistem Buatan

Sawah merupakan salah satu contoh ekosistem buatan
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah. Contoh ekosistem buatan adalah
Ekosistem kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi yang banyak. Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar, serta memiliki pengeluaran yang eksesif seperti polusi dan panas.
23
Ekosistem ruang angkasa bukan merupakan suatu sistem tertutup yang dapat memenuhi sendiri kebutuhannya tanpa tergantung input dari luar. Semua ekosistem dan kehidupan selalu bergantung pada bumi.
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Konsep ekologi adalah Hubungan keterkaitan dan ketergantungan antara seluruh komponen ekosistem yang harus dipertahankan dalam kondisi yang stabil dan seimbang (homeostatis). Perubahan terhadap salah satu komponen akan memengaruhi komponen lainnya. Homeostatis adalah kecenderungan sistem biologi untuk menahan perubahan dan selalu berada dalam keseimbangan.
Ekosistem mampu memelihara dan mengatur diri sendiri seperti halnya komponen penyusunnya yaitu organisme dan populasi. Dengan demikian, ekosistem dapat dianggap suatu cibernetik di alam. Namun manusia cenderung mengganggu sistem pengendalian alamiah ini. Ekosistem merupakan kumpulan dari bermacam-macam dari alam tersebut, contoh hewan, tumbuhan, lingkungan, dan yang terakhir manusia.
Ciri-ciri ekosistem adalah sebagai berikut:

·         Memiliki sumber energi yang konstan, umumnya cahaya matahari atau panas bumi pada ekosistem yang ditemukan di dasar laut yang dangkal.
·         Populasi makhluk hidup mampu menyimpan energi dalam bentuk materi organik.
·         Terdapat daur materi yang berkesinambungan antara populasi dan lingkungannya.
·         Terdapat aliran energi dari satu tingkat ke tingkat yang lainnya.

Komponen Ekosistem terbagi menjadi dua komponen yaitu Komponen Biotik dan Komponen Abiotik.

Ada juga Hubungan Antarkomponen Ekosistem terbagi menjadi 3 hubungan yaitu:
·         Hubungan Makan
·         Hubungan Simbiosis
·         Hubungan Kompetisi

Adapun Energi dalam ekosistem
1.      Manifestasi Energi
2.      Rantai Makanan dan Jaring-Jaring Makanan
·         Rantai makanan, merupakan proses makan dan dimakan di antara organisme dengan urutan satu arah yang mengakibatkan terjadinya perpindahan energi dari satu organisme ke organisme yang lainnya.
·         Jaring-jaring Makanan, rantai-rantai makanan yang saling berhubungan.
24
 
3.      Piramida Biomassa dan Piramida Energi
Suatu siklus bahan kimia, dari bagian abiotik dalam ekosistem ke komponen biotik, lalu diuraikan kembali menjadi mineral, demikian seterusnya. Dari sekian banyak siklus biogeokimia, ada beberapa siklus yang sangat penting antara lain:

1.      Siklus Air
2.      Siklus oksigen
3.      Siklus Fosfor
4.      Siklus Belerang
5.      Siklus Karbon
6.      Siklus Nitrogen
Satuan Makhluk Hidup dalam Ekosistem
1.      Individu
Pada suatu ekosistem akan ditemukan beberapa jenis makhluk hidup. Misalnya kamu menemukan seekor semut dan satu batang pohon. Jumlah dengan sebutan itu menunjukkan satu makhluk hidup sejenis yang berjumlah tunggal dan disebut individu. Individu berasal dari bahasa Latin individuum yang artinya tidak dapat dibagi.
2.      Populasi
Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang berada pada suatu wilayah tertentu pada waktu yang bersamaan. Contoh populasi di antaranya dua ekor ayam di kebun, tiga ekor jerapah di padang rumput, sekumpulan semut di pohon jambu dan lima batang pohon durian di kebun. Sifat populasi adalah adanya kepadatan populasi dan perubahan jumlah populasi dari waktu ke waktu.
3.      Komunitas
Di kebun atau padang rumput terdapat beberapa hewan dan tumbuhan yang hidup dalam waktu yang bersamaan. Beberapa populasi tersebut saling berinteraksi membentuk suatu komunitas. Suatu komunitas tersusun dari beberapa populasi yang hidup dan saling berinteraksi dalam satu wilayah tertentu pada suatu waktu. Nama sebuah komunitas biasanya menunjukkan makhluk hidup dominan yang menempati habitat tersebut. Pada komunitas hutan bakau, populasi yang paling banyak adalah pohon bakau. Begitu juga komunitas hutan bambu, populasi terbanyak adalah pohon bambu.
4.      Ekosistem dan Biosfer

25
Setiap makhluk hidup yang menempati suatu tempat akan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan yang ditempatinya. Hal ini bertujuan agar setiap organisme mampu bertahan hidup. Hubungan timbal balik yang kompleks antara organisme dengan lingkungannya disebut ekosistem.
Satuan makhluk hidup yang lebih besar daripada ekosistem adalah bioma. Contoh bioma adalah bioma stepa (padang rumput), bioma hutan basah, bioma gurun dan bioma tundra (padang lumut). Kumpulan dari berbagai macam bioma di bumi ini membentuk sebuah sistem yang disebut biosfer.
Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan ekosistem buatan.

1.      Ekosistem Akuatik (air)

2.      Ekosistem Terestrial (darat)

Meliputi Hutan hujan tropis, Hutan Magrove, Hutan Rawa, Sabana, Padang rumput, Gurun, Hutan gugur, Taiga, Tundra, Karst (batu gamping /gua).

3.      Ekosistem Buatan

Contoh ekosistem buatan adalah bendungan, hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus, agroekosistem berupa sawah tadah hujan, sawah irigasi, perkebunan sawit, ekosistem pemukiman seperti kota dan desa.

B.      Saran
Jangan sampai pembuatan makalah ini, hanya dijadikan sebagai pajangan saja yang hanya sekedar dilihat. Namun yang seharusnya kita lakukan yaitu:
1)        Sebagai mahasiswa seharusnya kita lebih memperdalam ilmu pengetahuan sesuai dengan bidangnya.
2)        Di harapkan lebih menyempurnakan makalah ini.
3)        Mahasiswa harus menjadi center learning student dalam perkuliahan sehingga mahasiswa dapat menjadi mahasiswa yang kreatif.



26
 
DAFTAR PUSTAKA






27
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar